Malam-malam, sehabis berita pukul 9, telepon saya berdering. Seorang kenalan dengan suara berbisik bertanya, "Software anti virus apa yang paling ampuh?" Saya tidak bisa menjawabnya kalau dia mematok ukuran "PALING". Saya cuma menceritakan pengalaman saya memakai anti virus.

"Kena virus apa, pak?"

"Nggak tahu. setiap kali buka browser, muncul gambar porno," suara di seberang sana terdengar makin berbisik.

Weleh!

"Selalu begitu, ya?"

"Mungkin. Saya baru tahu tadi sore waktu anak saya mau pakai komputer," jawabnya polos.

Weleh!

Cepat saja saya menyimpulkan: orang ini jorok! Gambar porno itu tidak mungkin ujug-ujug datang ke komputernya. Kalau bukan sering, setidaknya orang ini pernah mengunjungi situs web porno. Plus, mengklik berbagai pop up bergambar porno juga, yang membawa spyware dan adware ke komputernya.

Tampaknya, lelaki berkumis ini juga tidak terlalu paham soal spyware dan adware. Saya hampir yakin, komputernya juga tidak dilengkapi dengan pencegah dan pembersih spyware dan adware.

"Sekarang anak-anak saya larang pakai komputer," lanjutnya

Weleh! Bapaknya yang jorok, anaknya yang jadi korban.

Lain lagi dengan Pak Pengacara yang baru saya kenal siang itu. Dia bangga sekali dengan laptopnya, yang dibikin oleh pabrik terkenal, berteknologi terdepan, dan -pasti- berharga mahal. Harga mahal pasti bukan soal buat Pak Pengacara. Tebakan saya, penghasilannya sebulan memungkinkan dia membeli laptop baru setiap 3 minggu -kalau dia mau.

Hebatnya lagi, dia juga bangga mengaku, "Cuma saya yang boleh pakai laptop ini. Anak-anak dilarang."

"Iyalah. Anak-anak punya komputer sendiri-sendiri kan?"

"Nggak juga"

"Lantas, kenapa? Anda sering bekerja di rumah dengan laptop?"

"Rumah itu buat istirahat, mas. Saya nggak kerja kalau sampai rumah," dia tertawa-tawa. Bangga.

"Lantas, kenapa anak-anak tidak boleh pakai laptop anda?"

"Barang macam ini harus terawat. Kalau anak-anak sembarangan pijit tombolnya, nanti laptop bisa rusak."

Weleh! Bapaknya yang dungu, anaknya yang jadi korban. Setahu saya, laptop bisa rusak jika tombolnya dipijit dengan palu.

Maafkan saya kalau komentar untuk kedua bapak itu terlalu kasar. Tapi saya memang tidak bisa memaklumi ketidaktahuan mereka mengenai komputer sebagai alasan pemaaf bagi kedua orangtua itu.

Saya yakin, pada masanya dulu mereka berdua juga tidak tahu banyak tentang kondom: manfaat, cara mendapatkan, dan cara menggunakannya. Tapi toh sekarang -saya yakin- mereka sudah terbiasa menggunakannya. Mereka pasti sempat bertanya kiri kanan, membaca ini itu, dan mencobanya. Bisa!

Semestinya juga begitu untuk urusan komputer. Kalau malu bertanya ke kolega -karena mungkin risih kalau dicap gaptek, mereka bisa saja diam-diam membeli buku-buku panduan untuk pengguna komputer pemula. Sekarang banyak buku komputer untuk para pemula.

Tapi ... mmm ... sebentar. Saya sering mendapatkan pengakuan dari pembaca buku komputer bahwa buku yang mereka baca itu tidak bisa dimengerti dan tidak bisa dipraktekan. Nah, yang ini adalah pekerjaan rumah para penerbit, penulis, dan jagoan komputer yang harus segera diselesaikan.