Mau segelas air dingin? Masih ada beberapa plastik di depan saya pagi ini. Sekarang ini belum sampai pukul 1 pagi. Tidak terlalu dingin udaranya di dalam sini.  Panas juga tidak (untung saja kipas angin itu tidak punya urat.. dia tidak perlu mengeluhkan lehernya pegal karena sudah beberapa jam ini dia menengok ke kiri dan ke kanan tanpa berhenti).

Tapi tengkuk saya sedari tadi agak berkeringat. Capek? Jangan tanya. Jawabannya pasti, "Ya".

Memang jarak yang saya tempuh hari ini sama sekali tidak panjang. Tapi Jakarta tidak peduli jarak. Jakarta hanya mengkalkulasi waktu tempuh: seberapa cepat kita sampai di tempat tujuan. Itu artinya, bagi sebagian orang, adalah soal kesabaran; bagi sebagian lainnya berarti kerja keras untuk membiasakan diri melupakan umur. Ini sangat melelahkan

Iya, benar. Kita sedang ngobrol soal kemacetan. Bosan? Pasti. Saya tidak menyalahkan anda kalau jenuh soal yang satu ini. Kita memang tingal di sebuah negeri yang macet di segala urusan. Dan celakanya, tampaknya, kita tidak boleh terlalu berharap bahwa dalam waktu dekat urusan kemacetan akan segera bisa diurai. Kenapa?

Pertama, karena kelihatannya pabrik-pabrik sepeda motor sudah lupa untuk melengkapi produknya dengan rem. Saya harus meyakini dugaan ini. Coba, pernahkah anda melihat pengendara sepeda motor di jalan raya kita yang menginjak rem? Saya tidak pernah melihatnya. Selama ada celah seramping ban depannya, sepeda motor pasti melaju tanpa berhenti. Kaki pengendara sepeda motor baru benar-benar menginjak tanah ketika mereka benar-benar kepentok kemacetan yang total.

Kedua, karena pabrik-pabrik mobil lupa melengkapi produknya dengan kaca spion dan lampu sign. Banyak sekali kendaraan beroda empat itu -mobil mewah kek, angkot bobrok kek- yang berhenti di jalan seenaknya, atau menikung sesuka hati. Kita tidak boleh menghina kecerdasan dan keberadaban para pemegang dan pemberi SIM kan? Jadi, marilah kita tuduh saja pabrik mobil bertidak teledor.

Ketiga, karena pabrik cat di negeri ini hanya memproduksi cat berwarna transparan. Akibatnya, kita tidak pernah bisa melihat rambu lalulintas. Saya yakin, para pengelola jalan raya ini pastilah sudah menganggarkan dan mengerjakan pembuatan rambu lalu lintas. Dan kita, para pemakai jalan, tidak buta kan? Jadi, pasti ada yang salah dengan cat yang dipakai untuk membuat rambu-rambu itu.

Keempat, karena politisi yang sudah langsung kita pilih itu dan penyelenggara negara lainnya pasti tidak pernah melewati jalan raya. Jadi wajar saja kalau urusan jalan raya tidak ada dalam ingatan mereka. Ketika ada krisis energi, tidak seorang politisi pun yang mengajak setiap orang untuk tertib di jalan agar energi bisa dihemat. Ketika pak Kapolri yang baru itu dilantik, kita juga tidak mendengar tekadnya untuk menertibkan hukum di jalan. Jadi, saudara-saudara, orang-orang besar ini bukannya tidak peduli pada urusan jalan raya. Mereka cuma tidak pernah melewatinya saja.

Alasan kelima, keenam, ketujuh dan seterusnya itu, silakan anda tambahi lagilah.

Saya tidak khawatir kekurangan alasan untuk bisa memaklumi segala kemacetan di negeri ini. Yang saya khawatirkan adalah kuping kita.

Setiap kali bertemu kemacetan, kita punya mekanisme reflek untuk membunyikan klakson. Itu benar-benar hanya mekanisme reflek saja; tidak ada urusan apakah orang yang mendengarnya tahu bahwa kita sudah sebel dengan kemacetan. Dan kalau kita setiap hari terbiasa mendengar kegaduhan klakson, bukan mustahil, tubuh kita melakukan adaptasi: kuping kita menciut menjadi tambah kecil.

Coba anda intip, seberapa kecil daun telinga anda sekarang?