Seribu Mil Lebih Sedepa. Inilah lagu Iwan Abdulrachman yang saya suka, tapi tidak pernah bisa saya hapal. Liriknya tidak hapal. Lagunya pun cuma ingat sepotong-sepotong.

Hanya dua bait dari lagu itu yang bisa begitu saja tiba-tiba berkelebat di kepala saya. "Seribu mil lebih sedepa" dan "lagu alam memang sunyi".

Coba, coba dengarkan ketika Iwan sampai di bagian "Seribu mil lebih sedepa". Dengarkan bagaimana Iwan melantunkan bait itu. Entah apa yang anda rasakan, tapi bagi kuping saya, bagian nyanyian itu seperti api yang menyambar sumbu kesadaran-ruang dalam diri saya. Dia bukan saja seperti transponder yang mengirimkan saya ke sebuah tempat yang memungkinkan saya melihat dengan jelas garis cakrawala. Lebih dari itu, bagian lagu itu meyakinkan saya bahwa jarak dari tempat saya duduk ke cakrawala itu tak kurang dari seribu mil lebih sedepa. Ini sebuah detil yang menggiring pendengar untuk sungguh hadir dalam dunia yang dibangun oleh Iwan dalam lagu itu: dunia lelaki yang kesepian dan merindu.

Dengan bait "lagu alam memang sunyi", Iwan kelihatannya mau memperkuat imaji sepi dan rindu dalam lagu itu. Buat saya, bagian ini juga terasa nikmat. Buat mereka yang punya pengalaman menyusuri hutan di gunung ketika sore atau malam, bunyi bait itu adalah ungkapan intuitif.

Tapi sebetulnya ungkapan itu keliru. Lagu alam sama sekali tidak sunyi. Alam selalu punya suara yang bisa didengar: bisa selirih desis angin; bisa juga semenggelegar bunyi urug (longsor), banjir bandang, tsunami atau gempa bumi. Yang pasti, alam bernyanyi teu beja-beja, nggak bilang-bilang, diam-diam.

Ah, ini mengingatkan saya bahwa banyak hal berlangsung diam-diam dan kita mengabaikannya. Kita baru bereaksi terhadap sebuah peristiwa ketika sebuah kejadian saat ini langsung menyengat kulit, atau mencolok mata, atau memekaki kuping, atau memedasi lidah, atau menyumbat hidung kita sendiri. Dan itu berlangsung secara subyektif dan individual: apa yang anda rasakan langsung belum tentu terasa oleh orang lain -begitu juga sebaliknya.

Misal. Sebagai bagian dari sebuah masyarakat yang reaktif, yang kita tahu bahwa kita harus sampai ke rumah secepatnya selepas kerja dengan cara dan kelakuan apapun: kita merasa berhak menyerobot kendaraan lain sesuka hati dan zigzag di jalan raya milik semua orang. Seperti ayam yang mematuk apapun begitu terasa lapar, kita tidak pernah malu menyerobot antrian di loket stasiun kereta untuk mendapatkan karcis, maupun  di rumah makan cepat saji untuk mendapatkan makanan. Kalau perlu, kita ok-ok saja untuk menyulap suap sebagai kegiatan yang halal ketika kita ingin mempercepat urusan kita di kantor pemerintahan.

Dengan kelakuan macam itu, diam-diam kita menghacurkan keyakinan bahwa kita hidup sebagai bangsa di sebuah negara. Kita mengabaikan hal itu. Saat ini diam-diam kita sangat susah menemukan alasan dan argumentasi bahwa kita hidup dalam sebuah negara: kita tidak teryakinkan bahwa ada yang mengelola negara, kita tidak melihat rencana dan strategi negeri ini karena kita tidak tahu apa mau bangsa ini di masa depan. Ini berlangsung diam-diam, dan kita mengabaikannya.

Kita hanya sibuk dengan peradaban yang berisik: handphone yang berdering-dering, iklan produk yang memanggil-manggil, stasiun-stasiun televisi yang bergosip tidak tentu juntrungannya, politisi yang bicara keras-keras untuk menarik simpati sambil memasang kacamata kuda bagi para pendukungnya.

Abah Iwan, lagu natur (alam) memang teu beja-beja. Begitu juga dengan lagu kultur: diam-diam. Dan kita terlalu sering dan terlalu lama mengabaikannya.