Coba ingat-ingat, apa yang paling sering membuat anda enggan menuding kesalahan orang lain? Dan, juga coba anda ingat-ingat, apa yang paling mudah untuk mengalihkan perhatian orang lain dari kesalahan anda sendiri?

Untuk kedua pertanyaan yang berbeda tadi, jawabannya sama: anda dan orang lain sama-sama punya kesalahan!

Anda enggan menuding kesalahan orang lain karena anda juga pernah berbuat salah -bahkan untuk urusan yang berbeda. Biasanya, keengganan ini juga disertai oleh rasa takut bahwa orang lain akan balik mengungkit-ungkit kesalahan anda. "Sesama orang tercela jangan saling mencela," mungkin anda kira begitulah cara berpikir yang benar.

Begitu juga sebaliknya. Cara termudah -dan seringkali efektif- untuk mengalihkan perhatian orang dari kesalahan anda adalah balik menyerang kesalahan orang lain. Tak peduli kesalahan orang lain itu tidak punya kaitan apapun dengan kesalahan anda sendiri. Dengan cara ini, anda boleh berharap bahwa kesalahan anda akan dianggap bukan sebagai kesalahan lagi. "Tak ada kesalahan jika orang lain juga berbuat salah," mungkin anda kira begitulah logika yang lurus.

Tapi, maaf bung, logika macam itu tergolong sesat pikir (fallacy). Dalam bahasa latin, sesat pikir jenis ini disebut tu quoque. Yang artinya, dalam bahasa gaul, "Lu juga begitu!"

Dengan tingkat kewarasan yang sederhana saja, kita akan segera mengenali bahwa cara berpikir macam itu tergolong sesat karena:

  • Berargumentasi dengan cara menyerang orang lain, yang tidak ada kaitannya dengan hal yang sedang dperkarakan. "Ad hominem," kata para ahli logika. Anda tidak terbebas dari tuduhan penggelapan pajak dengan mengatakan, "Pejabat negara juga korup!" Kesalahan anda tak punya kaitan logis dengan kesalahan sang pejabat. Dengan menyebut bahwa banyak aparat kepolisian menerima sogokan, juga tidak membuat anda punya alasan untuk ngebut di bahu jalan tol kan?
  • Sebuah kesalahan tetaplah sebuah kesalahan meskipun banyak yang melakukannya. Sebuah premis tidak dengan sendirinya menjadi benar karena dinyatakan berulang-ulang dan dianggap sebagai sebuah kelaziman. Jika semua orang di dunia ini merokok maka tidak berarti dengan sendirinya merokok menguntungkan kesehatan manusia kan?

Sebentar. Sebentar. Jangan keburu nafsu. Lebih baik teguk dulu minuman yang sudah tersedia di samping anda. Helalah nafas anda agak panjang. Kira-kira, saya tahu apa yang ada di benak anda kok.

Maafkan saya kalau terlihat sok tahu, tapi saya benar-benar menduga anda akan mengatakan, "Ini bukan soal sesat pikir. Ini adalah soal fairness, soal rasa keadilan." Ya. Ya, saya sering mendengar dalih ini diucapkan oleh orang yang menyesatkan dirinya sendiri dalam berlogika untuk mempertahankan diri dari berbagai dakwaan.

Bung, keadilan bukanlah praktek balas dendam. Pembunuhan yang dibalas dengan pembunuhan tidak tergolong sebagai tindakan yang adil. Sejak kapan "maling teriak maling" boleh kita anggap sebagai pahlawan?

Keadilan itu, bung, adalah soal kesetaraan. Jika anda koruptor, sudah sepantasnya anda masuk bui meskipun lembaga peradilan belum memperkarakan kolega anda yang sama-sama makan uang rakyat. Tentu, kolega anda juga wajib dihukum jika ia terbukti korupsi. Bahkan, pengelola lembaga peradilan pun harus diadili jika mereka membiarkan koruptor melenggangkangkung tanpa tersentuh hukum. Begitu seterusnya.

Bahwa ternyata kita semua harus dibui karena pernah melakukan pelanggaran hukum, ya apa boleh buat. Kewarasan memang punya harga.