Tadi malam Yahoo Messenger terlihat cerewet. Dia berkali-kali berbunyi, memunculkan alert, mengabarkan bahwa ada email dari seorang teman muda yang masuk ke kotak surat elektronik. Dari subyek email itu, saya bisa tahu, ia baru saja meng-update blognya. Saya memang sengaja mengaktifkan alert itu agar bisa dengan cepat tahu dan merespon sewaktu ada email masuk ke account saya.

Biasanya, kalau subyeknya –dalam bahasa Inggris- cuma berbunyi, "Si X baru saja meng-update blognya", saya tidak perlu tergesa-gesa membuka email itu. Tapi yang terjadi malam tadi agak berbeda. Pemberitahuan dengan bunyi yang sama muncul 4 kali dalam waktu tidak lebih dari 3 menit.

Itu luar biasa. Jika dia bisa mempublikasikan 4 tulisan dalam 3 menit berarti dia mampu menulis 1 naskah kurang dari satu menit. Saya selalu kagum dengan mereka yang mampu menulis cepat. Meskipun tidak selalu berkaitan, seringkali kemampuan menulis cepat itu mencerminkan tingkat keterampilan menulis yang lumayan baik. Keterampilan lho, bukan kualitas.

Memang tidak semua orang yang bisa menulis dengan cepat mampu melahirkan tulisan yang berkualitas baik, tapi juga tidak semua tulisan yang dikerjakan secara cepat berarti kualitasnya buruk. Meskipun tidak banyak, saya kenal beberapa teman yang mampu menulis dengan cepat dan menghasilkan karya yang bagus. Kebanyakan, draft pertama yang ditulis dengan cepat itu membuahkan tulisan yang buruk. Tapi apa salahnya? Tidak apa-apa. Yang penting, tulislah dengan cepat meskipun dengan hasil yang buruk, tapi pertaruhkanlah segala yang mampu anda lakukan untuk mengeditnya secara baik.

Di kelas-kelas Jakarta School, saya dan AS Laksana mendorong seluruh peserta untuk menulis secepat-cepatnya. Jika hasilnya buruk, ya tak apa. Bahkan kami dengan sadar mengajarkan teknik dan strategi menulis cepat itu. Tapi kami berdua juga menyodorkan macam-macam teknik editing agar para peserta bisa mengelola draft pertamanya yang buruk itu menjadi tulisan yang baik. Ini jauh lebih baik ketimbang membiarkan orang menulis dan mengedit berlama-lama dengan hasil yang lebih burik dan buruk lagi! Sebagai sebuah praktek, ini adalah cara awal untuk melatih keterampilan menulis, mengisi jam terbang mereka secara lebih produktif. Sekaligus, ini juga menjadi strategi untuk mengatasi problem kejengkelan gara-gara naskah yang sudah ditulis berbulan-bulan (bahkan mungkin bertahun-tahun) ternyata ditolak oleh penerbit. Siapa yang tidak pening kalau karyanya yang dikerjakan sepenuh hati dalam tempo yang lama itu akhirnya kandas di tangan editor sebuah penerbitan? Berbeda jika karya itu kita selesaikan dengan waktu cepat: jika ditolak penerbit, ya tinggal menulis lagi dengan cepat. Begitu terus. Apa susahnya? Lalu, bagaimana nasib naskah-naskah yang sudah ditolak tadi? Ya, edit lagi dengan cepat. Apa susahnya (lagi)?

Balik ke soal alert Yahoo Messenger tadi. Karena diberondong oleh pesan yang datang bertubi-tubi dalam 3 menit itu, saya jadi penasaran. Blog teman yang masih berumur 20 tahun itu memang menyajikan empat tulisan baru. Tepatnya, 4 puisi. Lebih tepatnya lagi, 4 puisi patah hati. Oh!

Angka di pojok kanan bawah layar monitor saya menunjukan 23:47. Cuma kurang 13 menit lagi untuk sampai pada jam 00:00 tanggal 14 Februari. Semestinya tanggal itu adalah waktu istimewa buat orang seumuran teman saya itu: Valentine Day.

Saya tidak berani membayangkan muka teman saya itu di depan komputer. Mungkin kusut. Mungkin matanya kosong. Mungkin diam-diam dia menangis (Laki-laki tetap boleh menangis ketika patah hati kan?).

Malam menjelang hari Valentine adalah malam panjang bagi mereka yang terlibat asmara. Mereka mungkin saja tidak begitu sabar menunggu tanggal 14 Februari dengan macam-macam rencana yang akan dilakukan bersama pasangannya.

Saya kira, malam menjelang hari Valentine juga merupakan malam yang panjang bagi jomblo dan orang yang patah hati, seperti teman saya ini. Terasa panjang untuk menikmati sesaknya dada. Terasa panjang dan ngelangut untuk meratapi kesendirian. Dan mungkin terasa mengerikan untuk mengenang masa-masa jatuh cinta sebelumnya.

Aih!

Karena tidak tega membayangkan hancurnya hati teman saya itu, saya merasa lebih baik melanjutkan jalan-jalan ke seantero Internet. Sindikasi.com menjadi jujugan pertama saya tengah malam itu. Berita yang yang tampil di urutan paling atas halaman depan sindikasi.com itu adalah kutipan dari sebuah blog yang bunyinya begini:

Putus cinta itu ternyata masih sama rasanya seperti terakhir gue rasakan 5 tahun yang lalu. Ironis... gue harus tersenyum lebar besok. Gimana caranya ya?

Aduh sakit banget! HELP!!

Aih!  Di malam menjelang Valentine Day, tak cuma satu orang yang bermimpi buruk.

Saya bukan salah satu diantara mereka. Di antara kepulan asap teh hangat, saya mencium aroma parfum. Aih!