"Neraka itu dipenuhi oleh musisi amatir"
George Bernard Shaw (1856 - 1950)

 

 

 "Ayah, kita sibuk sendiri-sendiri saja, ya".

Saya mendadak menghentikan senandung. Mata saya mencoba tetap fokus ke jalan yang sedang kami susuri. Saya tidak paham maksud Tom.

"Ayah tetap menyanyi lagu Indonesia. Aku menyanyi lagu Jepang," kata Tom tanpa melepas headphone pemutar MP3 yang menempel di kupingnya. Saya mendengar samar-samar lagu berbahasa Jepang. Tom terlalu keras mengatur volume suaranya.

"OK," saya bilang. Saya baru ngeh. Tom  ternyata memperhatikan saya yang sedang keasikan menyenandungkan "Pojok Cafe Simpang Lima", mengikuti suara Leo Kristi yang hampir memenuhi kabin mobil.

Tom hampir selalu begitu. Dia akan berusaha menyumpal kupingnya dengan lagu-lagu berbahasa Jepang kalau ia tidak menemukan kesenangan di sekelilingnya.

Kenapa Tom tidak menemukan kesenangan di lagu-lagu Leo Kristi? Padahal, selagi dia masih dalam kandungan, saya sering menempelkan tape kecil yang memutar lagu Leo ke perut ibunya. Selama sebelas bulan pertama kelahirannya, lagu Leo hampir selalu diputar selagi si Bunda memandikannya.

Tapi begitulah. Sampai sebesar ini, dia tidak memberikan gelagat bakal menyukai Leo. Ia malah lebih tanggap ketika saya memutar Bob Marley, Paul Simon atau The Doors. Ia juga pernah penasaran dengan petikan gitar Leo yang lain -Leo Kotke, bukan Leo Kristi.

Apakah itu menjadi masalah bagi saya? Tidak. Sama sekali, tidak. Dia boleh memilih sendiri musik yang ia suka. Tidak harus Leo Kristi. Saya juga memperlakukan hal yang sama kepada diri sendiri: tidak harus Leo Kristi. Ada banyak pemusik lain yang juga layak untuk dinikmati.

"Itu lagu siapa?" Tanya Tom suatu malam. Dia sedang rebahan di karpet biru dengan setumpuk kertas berserakan di sekelilingnya. Besok ia akan ulangan di sekolah.

Saya lagi-lagi menghentikan gerendengan saya. "Memangnya kenapa?"

"Aneh," katanya dengan mimik sinis.

Mau bilang apa? Itu lagu Rhoma Irama. "Musik," judulnya. Tom pasti tidak tahu, di tahun 70-an lagu itu sangat populer di kampung neneknya. Di tahun-tahun itu Rhoma masih menyebut musiknya sebagai "musik irama melayu", bukan musik dangdut. DI tahun-tahun itu lagu-lagu Rhoma masih syahdu. Tidak seperti Bimbo, Rhoma kehilangan kesyahduannya sejak khotbahnya menguasai musiknya.

"Mendingan ayah carikan chord buat lagu Yume No Tsuduzuki He," pinta Tom. Sudah saya coba, tapi tetap tidak bisa. Dia cengangas-cengenges mengejek saya.

Dia boleh menikmati lagunya sendiri, selagi saya juga boleh menikmati musik saya sendiri. Masing-masing orang punya takaran kesukaannya sendiri.