Saya mengira dalam pertunjukan Seabad Kebangkitan Indonesia di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta malam itu, 20 Mei 2008, Leo Kristi akan muncul kembali dengan berkaos oblong hitam saja setelah kepanasan gara-gara jaket plastik hitam yang ia pakai pada kemunculan pertamanya. Ternyata, yang menyeruak diantara para Lker yang manggung malam itu adalah –astaga!- seseorang dengan jaket berwarna merah jambu menyala dan helm hijau.

Setelah meredam tawa dan rasa kaget, saya berbisik ke telinga Tom, “Itu Pink Power Ranger”. Mata Tom terbelalak. Saya menyeringai.

***

Saya tidak mengenal Leo Kristi secara pribadi. Leo Kristi yang saya kenal –dan mungkin juga bagi sebagian besar fansnya- adalah seorang penyanyi, penyair, dan pemusik. Di mata penggemarnya, Leo sangat menguasai hampir seluruh aspek yang dibutuhkan oleh seorang penyair, pemusik dan sekaligus penyanyi untuk berbagi emosi dan pikiran; untuk menyulut inspirasi; untuk menyuguhkan keindahan sebuah potret maupun keluasan dunia pengalaman lewat diksi yang kuat; untuk memberikan energi baru yang menyegarkan diri para pendengarnya. Tentu itu semua lewat lagu dan musiknya.

Bagaimana jika lewat ceramah, pidato, wejangan, atau talkshow? Rasanya, tidaklah! Leo tidak menguasai dengan baik elemen-elemen yang dibutuhkan dalam sebuah ceramah, pidato, wejangan, maupun talkshow. Leo selalu terlihat payah untuk menyampaikan gagasannya dalam bahasa percakapan: rumit, ruwet, dan tak terbaca.

Simbolisme spiritualnya (yang muncul bersamaan awal masa tuanya?) juga tidak terlalu menggiurkan untuk dikunyah. Saya tidak berbirahi kepada utak atik simbol belah ketupatnya maupun apa yang disebut dengan bintang hati itu. Simbol-simbol itu seolah-olah ujug-ujug dijatuhkan begitu saja tanpa ujung pangkal yang berkait dengan pengalaman-pengalaman nyata; yang sungguh berbeda dengan kebanyakan syairnya.

Tak ada keraguan untuk memberikan apresiasi yang tinggi kepada Leo Kristi sebagai penyanyi, pemusik dan penyair. Sementara untuk menjadi orator, pemberi wejangan, guru spiritual maupun ideolog, Leo bergelagat tidak mempunyai kuda-kuda yang cukup kokoh sekaligus tidak menguasai jurus kembangan yang menarik untuk disimak.

Itu sebabnya ketika dia ‘berpidato’ di pertunjukan Seabad Kebangkitan Indonesia, nyaris tak ada yang menarik untuk disimak, dan sulit sekali untuk dicerna. Kata-kata, istilah-istilah, frase-frase lalu lalang dengan terbata-bata dan susah ditangkap arah maksudnya.

(Leo, bernyanyi sajalah! Kami akan sangat berterimakasih atas energi, keindahan, dan inspirasi yang kami dapat di dalamnya.)

***

Keesokan malam, 21 Mei 2008, di depan hidangan malam yang masih berasap tipis, Tom menangkap gambar kusut muka saya sepulang kerja .

“Kamu capek, ya?”

“Mungkin,” jawab saya sambil menyendok satu dua serpihan kaki sapi di mangkuk sup.

“Pasti gara-gara nonton Pink Power Ranger itu.”

Saya terbelalak. Tom menyeringai.

 

(Foto: Antara Foto)