Si perempuan marah besar. Dia melihat dan mendengar sendiri pacarnya berkhianat. Sembari terus mengumpat, telunjuknya hampir tidak berhenti menuding muka si lelaki yang matanya terbelalak karena kaget tertangkap basah menjelek-jelekan dirinya sambil merayu perempuan lain. Berkali-kali telunjuk itu, malah, mendorong jidat si lelaki yang mukanya tampak pias seperti petinju yang rahangnya dipukul dengan telak.

KO? Tidak. Justru sehabis perempuan itu menamparnya, si lelaki seperti mendapat energi baru. Barangkali karena dia tidak terima diperlakukan seperti pesakitan di depan kamera dan pengunjung lain kafe itu, ia malah balik menampar si perempuan.

Maaf, saudara-saudara, saya tidak melihat ada yang melerai dalam tayangan itu. Juru kamera tetap bisa memegang kameranya dengan stabil meski bergerak mencari posisi yang bagus untuk sudut pandangnya. Beberapa orang pembawa acara, yang sepanjang tayangan ini menjadi pembisik untuk menjebak si playboy, juga tidak diperlihatkan batang hidungnya ketika aksi tampar menampar ini direkam dan ditayangkan di ruang keluarga kita.

Sederet muka pembawa acara baru muncul ketika si lelaki yang memaksa pacarnya masuk ke mobil melarikan kendaraannya dengan cepat. Pasti, seakan-akan mereka tidak melihat kekerasan baru saja terjadi di depn matanya. di masing-masing muka para presenter itu terpasang senyuman sambil tak lupa mengajak kita untuk menyaksikan tayangan mereka di episoda berikutnya.

Senyuman? Ya. Tidak perlu heranlah. Senyuman adalah mekanisme rutin yang harus dikuasai oleh mereka yang berbisnis di panggung hiburan. Saya jadi ingat wawancara dengan seorang koreografer penari latar dua belas tahun lalu. Waktu itu saya heran melihat para penari latar yang terus menerus tersenyum di atas panggung meski penyanyinya sedang melantunkan lagu yang berkisah tentang derita. Dan waktu itu, sang koreografer dengan tangkas berkilah, "Mosok di panggung cemberut, mas. Kan gak enak dilihat".

Saya mencoba memahami cara berpikir si koreografer. Mungkin kira-kira begini: Panggung adalah bisnis hiburan, dan tak ada tempat bagi segala kesedihan dan penderitaan di panggung, maka tersenyumlah habis-habisan walaupun nggak nyambung dengan konteks sajian yang disuguhkan. Saya tidak tahu apakah dia sedang menerapkan pepatah Cina dalam berbisnis, "Jangan pernah buka toko kalau kamu tidak suka tersenyum".

Nah, saudara, sekarang mengakulah kepada saya. Apakah anda juga menikmati sajian tampar menampar dalam tayangan reality show Sabtu malam (8/10/2005) yang lalu?

Belum mau mengatakannya terus terang sekarang? Baiklah. Tunda dulu pengakuan anda. Kita teruskan menonton reality show berikutnya di stasiun TV yang sama beberapa menit kemudian.

Ini tentang seorang ibu penjual ayam yang punya hutang empat juta lima ratus ribu rupiah untuk menutup biaya pengobatan suami dan anaknya yang sakit. Perempuan gemuk bersama suaminya ini digelandang ke rumahnya oleh dua orang penagih hutang, justru ketika mereka sedang berdagang di pasar.

Si penagih hutang bersikeras menuntut penjual ayam ini melunasi hutangnya. Setidaknya, si penagih hutang meminta agar si ibu mengumpulkan beberapa ratus ribu rupiah dalam beberapa menit. Caranya? Jual barang berharga yang ada di rumah.

Si ibu pasrah saja. Dia manut saja. Lewat perintah si penagih hutang, ibu ini memboyong TV kumal, seperangkat stereo system-nya yang berdebu dan keliatan rapuh, dan –tentu juga- ayam-ayamnya ke pasar. Pontang panting dia melego barang-barangnya, dengan harga ala kadarnya pasti.

Kepanikan dan kelelahan terlihat sekali di perempuan itu. Pastilah karena dua orang penagih hutang itu terus menerus membututinya sambil memegang jam, menghitung waktu yang tersisa.

Semua barang yang diboyong berhasil terjual. Si ibu menangis sepanjang perjalanan dari pasar ke rumahnya. Dan, ini yang saya tak habis pikir, ia berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada dua penagih hutang itu. Kenapa dia berterimakasih setelah "disiksa" begitu? Dia memang berhutang, tapi apa boleh ada orang memperlakukannya begitu?

Tayangan harus diakhiri dengan bahagia. Datanglah perempuan muda penyelamat. Dia memberi uang yang cukup untuk melunasi hutang si ibu penjual ayam ini. Selanjutnya, adegan teletubies: berpelukan!

Bagaimana? Puas? Anda suka dan menikmati tayangan tampar menampar tanpa ada yang melerai? Anda suka melihat kepanikan dan kelelahan si ibu?

Baiklah. Anda tidak harus menjawabnya. Saya cuma mengingatkan, yang anda saksikan bukanlah cerita fiksi, bukan juga tayangan sport. Kekerasan fisik dan emosi yang anda saksikan adalah real, nyata.

Bukan cuma dengan dua acara TV itu saja, lewat macam-macam reality show yang sekarang muncul di ruang keluarga kita, TV telah membesarkan kita dalam peradaban yang aneh. Kita dipupuk menjadi voyeur, tukang ngintip, yang memuaskan diri dengan menyaksikan penderitaan dan konflik yang benar-benar terjadi di depan mata.

Di depan kelas penulisan fiksi, saya memang mengajarkan bahwa tanpa konflik, tak ada cerita. Tapi itu tidak berarti bahwa hidup kita harus dihiasai oleh konflik agar kita bisa memuaskan diri.