"Gampangnya, komedi itu adalah cara lucu dari sesuatu yang serius."
Peter Ustinov (1921 - 2004)

"Kita kembali ke laptop". Slogan Tukul Arwana di acara TV Empat mata itu mungkin maksudnya adalah, "Kita sebaiknya kembali fokus ke urusan kita". Ini ajakan yang bagus. Slogan ini seperti selalu mengingatkan kita bahwa banyak problem berat yang kita hadapi selama ini seringkali berawal dari tindakan dan cara berpikir yang melantur ke sana kemari tanpa fokus dan niat yang jelas.

Saya tidak tahu asal usul slogan itu. Apakah slogan "Kita kembali ke laptop" itu memang dirancang sejak awal oleh para penggagas acara Empat Mata ataukah hasil spontanitas Tukul? Tidak terlalu penting untuk menjawabnya. Tapi slogan itu setidaknya penting buat Tukul di acara itu. Slogan itu menjadi perkakas yang baik bagi pelawak ini agar setiap episoda acaranya punya tema yang akan mengikat seluruh ocehan yang muncul di atas panggung sehingga seolah-olah punya alasan untuk disebut sebagai sebuah episoda acara.

Meskipun, kalau mau jujur, kebanyakan penonton Empat Mata tidak terlalu merasa punya kepentingan dengan tema yang digelar oleh Tukul di depan layar kaca. Bukankah anda juga tidak terlalu peduli siapa yang menjadi tamu Tukul di acara itu? Yang ditunggu oleh penonton Empat Mata justru adalah ocehan yang melantur kemana-mana, keluguan, kenaifan, ketidaktahuan, dan kesusahan Tukul.

"Puas ya? Puas? Puas?" Tukul selalu memakai ungkapan itu dengan suara keras dan mata nyaris melotot untuk membunyikan gong leluconnya. Dan semua penonton tertawa. Mengiyakan tanpa kata-kata.

Menonton Empat Mata, akui saja, bagai melepaskan naluri kekuasaan kita sebagai makhluk yang mengenal status dan strata sosial. Kita merasa plong selama menonton acara itu karena merasa tersalurkan untuk berkuasa. Selama memlototi Tukul di acara itu, kita bahagia karena ternyata ada Tukul yang lebih bodoh ketimbang kita. Kita senang karena ternyata ada Tukul yang lebih ndeso ketimbang kita. Kita tertawa karena ternyata ada Tukul yang lebih menderita ketimbang kita. Kita merasa bahagia, senang, dan tertawa karena kita merasa lebih berkuasa ketimbang dia. Di acara itu -atas nama menghibur orang- Tukul sudah merelakan dirinya sendiri untuk menjadi bahan cemoohan.

"Aku menghina maka aku berkuasa"? Tegakah anda blak-blakan memakai prinsip itu? Anda yang harus menjawabnya sendiri. Yang jelas, anda, juga anda yang di sebelah sana, anda yang di situ, dan juga saya yang di sini mungkin memang berhutang kepada Tukul dan orang-orang yang bekerja sebagai badut lainnya. Mereka rela merendahkan dirinya sendiri agar kita merasa berkuasa.

Diam-diam, lewat komedi-komedi slapstik, kita menyalurkan insting kelaliman manusia.

Puas, ya? Puas? Puas?