Tentu saja, sebagai jurnalis, anda harus bekerja cepat. Informasi dari anda mungkin benar-benar sedang ditunggu oleh banyak orang sesegera mungkin. Lagi pula, semakin hari semakin banyak orang berlagak, "Saya membutuhkan pasokan informasi yang cepat untuk setiap keputusan saya". Tapi itu tidak bisa anda jadikan alasan untuk mempraktekan kerja jurnalistik yang serba tergesa-gesa; suatu jurnalisme kebelet.

Segala urusan akan menjadi merepotkan dalam situasi kebelet, memang. Ketika kebelet, kita akan susah berpikir jernih. Boro-boro berpikir jernih; yang terasa cuma jantung berdebar-debar dan keringat ngocor dari setiap pangkal rambut. Kalau perlu, tabrak sana tabrak sini, hindari ini hindari itu,  abaikan ini abaikan itu. Yang penting, segera memenuhi hajat. Plung, dan langsung plong.

Sebagai jurnalis, dalam situasi kebelet, air liur anda mungkin segera meleleh jatuh dari tepi bibir dan turun menetes melewati dagu seketika anda mendengar orang mengumbar klaim yang menghebohkan. Dalam situasi begitu, selalu ada kemungkinan yang cukup besar bahwa anda akan segera menelan bulat-bulat klaim-klaim yang menghebohkan. Apalagi kebanyakan klaim yang menghebohkan cenderung punya 'nilai berita' bukan?

Tapi, seperti yang diajarkan dalam materi-materi dasar jurnalistik, 'nilai berita' bukanlah satu-satunya ukuran yang bisa dipakai untuk menentukan sebuah klaim layak untuk diberitakan. Setiap hari anda akan mendapatkan sekian banyak klaim yang mengandung 'nilai berita'. Apakah anda akan memberitakan semua klaim yang mengandung 'nilai berita' itu?

Membuat klaim adalah watak sosial manusia. Siapapun boleh membuat klaim semaunya sendiri. Yang harus anda ingat, salah satu institusi sosial yang bertanggungjawab untuk menyelamatkan masyarakat dari berbagai klaim ngawur adalah pers. Ya, anda -para jurnalis.

Tangungjawab sosial itu akan susah anda penuhi jika anda mempraktekan jurnalisme kebelet tadi. Apalagi jika anda tergolong jurnalis yang tidak punya rasa percaya diri karena kurang bergaul, wah, tambah runyam! Dengan gaya kebelet dan tidak punya kepercayaan diri,  jurnalisme bakal cenderung kehilangan daya kritisnya. Setidaknya, menjadi lupa atau tak punya waktu untuk bersikap kritis:

  • Anda malas dan malu bersikap kritis kepada seseorang yang dianggap ahli, pakar, atau jagoan. Anda bahkan lupa bahwa si narasumber mendapatkan embel-embel ahli, pakar, atau jagoan itu dari anda sendiri.
  • Anda merasa tidak perlu dan tak punya waktu untuk menguji kebenaran klaim dari narasumber anda.
  • Anda mengesampingkan detil dari klaim. Anda seolah lupa bahwa seorang pembual biasanya menghindari detil.
  • Bahkan anda tidak menyapa Pak Yahoo! atau Oom Google untuk sekadar melakukan riset kecil atas klaim yang anda dengar.
  • Anda tidak peduli pada kompetensi narasumber dan lebih terfokus pada bunyi klaim yang menghebohkan.
  • Anda seperti mendadak hilang ingatan bahwa ada pihak lain yang patut anda dengar pendapatnya sebelum anda mengamini klaim dari seseorang.
  • Anda menjadi gelap mata: mengabaikan buku-buku rujukan, melupakan perpustakan, serta pusat-pusat informasi dan arsip.

Please, jangan berkilah, "hebohkan dulu, koreksi kemudian". Dalam jurnalisme, koreksi dan ralat tak ada hubungannya dengan kehebohan. Koreksi dan ralat hanya bisa dilakukan jika anda salah dalam mengutarakan fakta; bukan jika anda melanggar azas kerja jurnalistik yang kritis.

Jika anda tetap ngotot menjalankan jurnalisme kebelet, anda hanya akan menyumbangkan kegaduhan-kegaduhan yang menyebalkan dan menghabiskan energi waras secara mubazir. Berisik!