Di tengah riuh rendah supermarket dan di sela-sela monumen, aku berduka. karena orang-orang bersuka cita memburu matahari yang terbit, untuk dipadamkan. orang-orang senang bermain dalam kabut. orang-orang cintai kegelapan agar tak runtuhkan monumen yang dibangunnya. orang-orang terlena oleh kekuasaan dan penguasaan hingga harus menentang gelombang waktu. jiwa yang bebas dan mengubah telah dirampas dari perjalanan pemenuhan janjinya kepada sang ketika. dan dipenjarakan ia dalam kerangkeng barisan monumen. betapa mengenaskan untuk mencoba tegap berdiri di hadapan jerit sakit korban yang terluka dalam pertarungan membungkam waktu. inilah hakekat kematian karena mengingkari perubahan.

Di antara bebunyian mekanik, komputer zaman, aku menyaksikan pintu kota terbakar perlahan. orang-orang mulai lalu lalang, digiring dalam lingkaran yang membosankan. berputar, dan terus berputar, pada titik kekecewaan yang panjang tak terputuskan. oh betapa panjangnya iring-iringan orang yang disisihkan dari peta perjalanan, hanya karena mereka bakal merambah jalan baru kepada kelepasan. aku berduka.

"Peradaban manakah yang hendak dibangun di bawah bayang senja yang melelahkan? padahal segala otot dan syaraf hanya terjaga pada pencerahan pagi hari, saat seluruh ladang mengumbar rangsangan untuk bercinta"

di statsiun kereta, peluit panjang berkali-kali dibunyikan. tapi aku berduka. derak roda loko terasa menyakitkan, mengingatkan pada arah semua langkah. gerakan-gerakan mengelak dari moksa. rel-rel menumpas permainan. dan lalu, luputlah segala jawaban bagi tujuan. aku berduka. pekik adzan entah dari surau mana, dentang lonceng di katedral, dan gumam samadhi melenguhkan lagu kematian bagi kebesaran. aku berduka karena tuhan digeletakkan di kampung kumuh yang bau anyir dan tak berdaya. telah ditumpas kemahaan dalam setiap upacara ketakberdayaan menahan nista atau pun suka. inilah pembugilan tuhan hingga beku kedinginan ia. maka hilanglah tegur sapa cinta. padahal percakapan selalu menentang kelelapan.

"tak kukenali lagi setap wajah dalam perjumpaan. orang-orang tak lagi perduli pada makna sorotan mata. maka lenyap pula makna tujuan pertemuan. masih bisakah cangkul dan lumpur sawah menjadi musim panen yang melimpah jika para petani kehilangan arah kemahaan semesta hidup?"

sesungguhnya, ada kebisingan hampir di setiap sudut ruang. tapi tanpa suara dan mulut menganga. arus keras yang bergelora, hanya sebatas dasar samodra, bukan ombak di tepian pantai. maka aku berduka. aku berduka untuk melawan perhentian. hanya kesadaran akan luka yang membawa kebangkitan. aku berduka.

Yogyakarta, 18 Oktober 1988