menyiapkan kelahiran baru
dalam kelu lidah dan kegagapan
bikin aku terpana
hanya hitung detak waktu
tanpa tanam apapun

apa yang harus dirancang
sementara kelahiran tak pernah bisa ditolak
buku-buku telah kehilangan aksara
wajahku dan wajahmu jadi tinggal pikiran tanpa kata-kata
bahasa kita adalah lenguh panjang keluh kesah
yang tak akan pernah bisa dibaca jelas maknanya

dengar,
itu tangis malam anak kita
dalam rahimmu

kamu menggigil
karena ayam-ayam sudah tak lagi punya kokoknya

pertanyaan-pertanyaan kita tentang fajar esok
membentur keangkuhan malam
lumpuh ia
lumpuh ia jadinya
selunglai kita
yang mengapung dalam kembaraan yang sia-sia
sebab tiada lagi pijakan di bawah kita
sebab tiada cakrawala di depan kita
sebab tiada batas pandang di atas kita
sebab tiada kemarin di belakang kita

dengar,
itu tangis malam anak kita
yang masih dalam rahimmu

setiap kali begitu
aku tak pernah berani miliki nama

Yogyakarta, 9 Oktober 1990