biarkanlah kami bermain dimana saja. semua tanah adalah sorga dan neraka. sama saja. biarkan kami bermain di terik hari atawa kegelapan yang pekat. kami punya mata buat semua.
cukup sudah kami dibikin tak mengerti oleh ketelanjangan kami ketika membuka rahim dunia, oleh kegelapan kubur sejarah, oleh upah bagi permainan kami. biarkan kami bermain kelamin, ombak yang berkecipak di sagara luas, bermain dengan layar yang terkembang menghantar daya, melampaui pulau-pulau huru-hara. rindu sudah tak tertahan mendengar kepak camar dan senandung malam di tengah lautan, serta mengejar cakrawala tak berujung. kami adalah pelaut yang bermain dengan kelamin, ombak, layar, camar dan cakrawala. maka biarkan kami bermain tanpa sauh atawa kekaraman.

jangan tanyakan kata lelah dan pasrah. memang kami punya keluh dan pel}h. tapi hidup dalam kesepian dan kengerian telah menjadi bagian dari sejarah kami. kekalahan tak lagi usah ditangisi. kemenangan buat apa dibikin tugu tinggi-tinggi. kami menolak itu semua tipu daya setan dan belis.

adam, akan kami balikkan kau ke sorga lagi, bapak. maka biarkan kami bermain.

jangan tunggu kami angkat senjata. kami adalah kaum pemberontak yang berduyun-duyun mengepung kebekuan dan menghancurkan kejalangan mata anjing dalam tubuh kami, karena bosan sudah tergusur terbuang terseret kepada kemesuman mulut rajasinga yang berkoar tentang sorga dan neraka di kedua puting teteknya. kami bisa hitung sendiri. kami bisa tambah sendiri. juga bisa kurangi sendiri. kami bisa bagi dan kali sendiri. karena kami putra-putra gerilya kehidupan.

birahi sudah naik ke puncak ubun-ubun, kelamin-kelamin yang berjejer mengeluh menunggu peluh. biarkan kami bergerak tumpahkan segala soara, meraung membelah malam, meraung menumpas panas, meraung menghentakkan segala kegetiran, meraung menghantam kesepian, meraung mencabik penjara meraung mengalahkan raungan serigala yang lapar, meraung terus, terus meraung, meraung terus meraung tiada hentinya. biarkan kami bermain dengan raungan.

biarkan kami bermain dalam tanah, menyusup menyingkap dan berkutet dengan dunia para cacing tanah dan belut-belut. kami bermula dari tanah dan kembali kepadanya pula. kami musti tahu itu kampung halaman. biarkan kami kenal siapa kami.

biarkan kami bermain apa saja

karena kamilah petani bagi dunia
karena kamilah para pelaut
yang bisa sendiri tentukan arah

Yogyakarta, 24 Juli 1986

(Sajak ini beberapa kali dibajak orang lain. Saya menemukan salah satu hasil bajakan atas sajak ini pada 12 Juni 2008 di http://syahrilkadir.wordpress.com/2008/03/06/rindu-tak-tertahankan/ atau anda bisa mengaksesnya lewat cache Google atau gambar hasil capturing)