Jangan turun ke desa. Di sana terlalu banyak persoalan," kata sang profesor. Dan aku lalu hanya tegak berdiri di perempatan jalan menunggu satu dua orang lemparkan uang untuk mabukku nanti malam. Yang kuperbuat sepanjang hari, lalu, cuma lagukan nyanyian asmara, "Maria, Maria, kemarilah perempuan. Rasa hausku malah kesakitan begitu kutengok masa depan. Maria, persoalan-persoalan menumpuk di tanganku, si jabang bayi, tanpa cangkul apalagi traktor".

"Jangan turun ke desa kalau tak ingin terlibat persoalan," ujar sang profesor di balik asap rokoknya. Dan aku lalu hanya menengok kantung uang untuk mengukur kekuatan malam nanti di kamar perempuan lapar. Di sela-sela hari tanpa pekerjaan, matahari hadir bagai tukang pajak di depan si miskin. Lalu aku hanya berlenggak-lenggok ikuti irama deru motor dan mobil di tengah jalan.

Allah, kenapa aku dilempar kemari. O Allah, kenapa aku hadir bersama penghuni bumi yang tak mampu nyalakan bara api bagi kerjaku. Allah, Allah, Allah, aku tak terima. Tapi siapa bisa balikkan aku ke rahimnya?"

"Jangan turun ke desa tanpa sigap jawab persoalan," kata sang profesor penuh uban. Di kota semua orang kesepian dalam kotak laparnya sendiri. Yang terusir tetap tersingkir. Yang tergusur tetap tak jadi manusia. Kota dan desa: dua tempat yang tak bikin akar ruhku tumbuh tanpa rasa cinta dan percaya.

"Jangan turun ke desa tanpa mau bicara," kata sang profesor. Aku tetap saja di kota, di tengah bunderan, menatap matahari yang menembus dari ubun-ubun ke duburku. Sendirian. Karena tak berdaya menghadapi apapun tanpa kecintaanku pada semua. Aku tetap di kota bagai sampah.

Yogyakarta, Pebruari 1990