Segala rupa tayangan debat politik di televisi maupun di media sosial hari ini sering dipresentasikan seolah-olah sebagai ruang diskusi publik. Konten serupa itu dirancang kemasannya agar terlihat seperti tempat berbagai pandangan dipertemukan, diuji, dan dipertajam.
Benar begitu?
Cobalah tonton dengan lebih tenang, dengan pikiran lebih jernih. Kita akan segera menyadari, kebanyakan tontonan serupa itu tidaklah lebih dari pertunjukan percekcokan. Dan, kalau kita lihat bagaimana cara memproduksinya, tontonan itu bisalah dipandang sebagai produk dari sebuah industri: industri percekcokan.
Yang sedang kita lihat bukanlah kegiatan pendidikan publik, bukan upaya memperluas wawasan masyarakat, dan bukan juga usaha serius untuk memahami persoalan bersama. Tayangan semacam itu dirancang sebagai produk hiburan berbasis konflik. Formatnya sederhana: dua pihak yang berseberangan dihadapkan dalam satu forum, emosi dipanaskan, nada suara meninggi, dan moderator sering kali justru mendorong tensi agar tidak mereda.
Dalam situasi seperti itu, argumen rasional sering tidak menjadi pusat perhatian. Penjelasan yang tenang jarang mendapatkan ruang. Yang dihargai justru potongan kalimat yang tajam, sindiran yang memancing sorakan, atau serangan yang memancing kemarahan. Penonton tidak benar-benar diajak memahami persoalan. Mereka cuma dipersilakan duduk di sudut ring masing-masing. Seperti penonton pertandingan tinju.
Di satu sudut, mereka menyemangati jagoannya. Di sudut lain, mereka menertawakan lawannya. Itulah seluruh partisipasi yang disediakan bagi audiens. Tidak ada perluasan wawasan, tidak ada upaya memahami kompleksitas persoalan, tidak ada percakapan yang membantu publik berpikir lebih jernih. Yang ada cuma emosi yang dipelihara agar pertunjukan tetap menyala.
Dan kalau kita jujur pada diri sendiri, itu sebenarnya agak konyol.
Masalahnya menjadi lebih serius ketika pertunjukan ini dikemas seolah-olah sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Seakan-akan yang sedang kita saksikan adalah praktik perdebatan publik yang sehat. Padahal yang ditampilkan cuma ilusi demokrasi.
Demokrasi membutuhkan diskursus: ruang di mana argumen diuji, orang saling mendengarkan, dan posisi bisa berubah ketika berhadapan dengan alasan yang lebih kuat. Industri percekcokan tidak punya tujuan semacam itu. Tujuannya jauh lebih sederhana: menghasilkan ketegangan yang cukup kuat untuk menarik perhatian audiens.
Perhatian itu kemudian dikonversi menjadi rating, klik, komentar, dan distribusi algoritmik. Dengan kata lain, yang dijual bukan gagasan, melainkan ketegangan.
Di sinilah logika industrinya menjadi jelas. Konflik bukan sesuatu yang disesalkan atau ingin diselesaikan. Konflik justru menjadi bahan baku produksi. Semakin tajam percekcokan, semakin menarik potongan videonya. Semakin banyak orang bereaksi, semakin luas jangkauannya.
Ironinya, banyak orang yang sebenarnya tidak menyukai tayangan semacam ini tetap ikut menopangnya tanpa sadar. Mereka menontonnya untuk “melihat seberapa parahnya”. Mereka membagikan potongan videonya sambil mengecamnya. Mereka mendiskusikannya kembali di media sosial, di grup percakapan, atau di forum lain.
Semua itu terdengar seperti kritik. Tetapi dalam ekonomi perhatian, reaksi semacam itu justru menjadi amplifikasi.
Industri percekcokan hidup bukan cuma dari penonton yang bersorak. Industri ini juga hidup dari orang-orang yang marah dan terus membicarakannya. Setiap komentar, setiap repost, setiap diskusi lanjutan sebenarnya memperpanjang umur pertunjukan itu.
Karena itu, mungkin respons yang paling masuk akal bukanlah kemarahan, melainkan penarikan diri. Kalau kita benar-benar melihatnya sebagai industri percekcokan, maka sikap yang paling rasional adalah berhenti menjadi bagian dari pasar yang membuat industri itu hidup.
Caranya sebenarnya sangat sederhana.
Berhenti menontonnya.
Jangan mengklik potongan videonya.
Jangan membagikannya -bahkan untuk mengecamnya.
Jangan ikut meramaikan percakapan yang cuma memperpanjang umur pertunjukan itu.
Dan bagi mereka yang sering diundang sebagai narasumber, ada satu langkah lain yang mungkin lebih penting: menolak hadir di dalamnya.
Selama masih ada orang yang bersedia duduk di panggung percekcokan itu, industri ini akan terus menemukan bahan bakunya. Tetapi kalau semakin banyak orang menolak menjadi bagian dari format tersebut, industri ini bakal kehilangan salah satu sumber energinya.
Industri percekcokan cuma bisa bertahan kalau ada dua hal: orang yang bersedia tampil di dalamnya, dan audiens yang bersedia memberi perhatian.
Tanpa keduanya, pertunjukan itu bakal kehilangan panggungnya.
Bisa jadi, justru di situlah kita bisa mulai memulihkan sesuatu yang lebih penting bagi kehidupan publik kita: percakapan yang tidak perlu berubah menjadi ring tinju cuma agar dianggap menarik. Karena percakapan publik seharusnya bukan pertunjukan.
