Beti, Bento, dan Nama-nama lainnya

Sejak kematian Beti dan penyembelihan Bento, saya tidak lagi memberi nama ke ayam-ayam peliharaan di rumah.

Beti mati karena sakit -dan saya gagal menemukan obat untuk menyembuhkannya. Sedangkan Bento, jantan yang jadi pasangannya, disembelih menjelang Lebaran lalu.

Meskipun tipis, ada perasaan kehilangan waktu melihat Beti mati di kandangnya. Juga terasa ada yang mengganjal ketika dengan berat hati memutuskan untuk menyembelih Bento demi mengurangi populasi ayam di kandang yang sempit karena anak-anak dan cucu mereka semakin besar.

Daging Bento sempat beberapa hari membeku di kulkas. Karena tidak ada penghuni rumah yang sampai hati untuk memakannya, daging itu ditawarkan ke Lastri -perempuan yang pernah bekerja di rumah kami. Bento menjadi hidangan di rumah ibu tunggal dengan empat anak perempuan itu.

Saya tidak merasakan hal yang persis sama ketika salah satu anak Beti-Bento itu kabur dari kandang dan lalu dimangsa anjing liar yang suka berkeliaran di sekitar rumah. Anjing liar itu memangsa ayam yang tak bernama.

Tidak ada perasaan berat hati ketika saya membagikan beberapa anak cucu Beti-Bento ke beberapa orang untuk dipelihara atau dimakan. Semua anak cucu Bento itu tak bernama.

Yang membedakan Beti dan Bento dari anak dan cucunya bukan umur mereka. Bukan juga cara mereka mati atau pergi. Yang paling mencolok justru sesuatu yang terlihat remeh: mereka punya nama sedangkan anak cucunya tidak.

Apa sebenarnya yang kita lakukan ketika memberi nama kepada sesuatu?

Benar, nama itu penanda. Nama memudahkan kita membedakan satu individu dari individu lain. Tanpa nama, bagaimana kita memanggil seseorang di tengah keramaian?

Tetapi pasti lebih dari sekadar alat pembeda. Nama tampaknya juga mengubah cara kita memandang hal-hal yang kita beri nama.

Begitu seekor ayam diberi nama, ia perlahan berhenti menjadi sekadar ayam. Ia menjadi individu dengan sejarahnya sendiri. Kita mulai mengenali kebiasaannya: mana yang paling dulu berlari ketika pakan ditaburkan, mana yang lebih senang bertengger di sudut kandang, mana yang selalu mengikuti pasangannya ke mana-mana. Sejak itu kita berhenti melihat spesies dan mulai melihat pribadi.

Mungkin karena itulah saya tidak pernah benar-benar mengingat ayam-ayam lain di kandang itu. Saya tahu mereka ada. Saya tahu mereka pernah hidup. Tetapi mereka menetas dan pergi begitu saja. Beti dan Bento tidak. Nama mereka membuat ingatan enggan melepaskan mereka.

Pengalaman macam ini bukan cuma terjadi di kandang ayam.

Kita memberi nama kepada anak-anak, tentu saja. Kita juga memberi nama kepada anjing, kucing, burung, bahkan mungkin kepada tanaman yang tumbuh di halaman. Ada orang yang memberi nama mobilnya. Para astronom memberi nama bintang. Bangsa-bangsa memberi nama gunung, sungai, dan pulau.

Kenapa manusia begitu gemar memberi nama?

Kalau nama cuma berfungsi sebagai penanda, nomor tampaknya lebih praktis. Kita bisa menamai ayam-ayam itu Ayam-01, Ayam-02, dan seterusnya. Tidak akan ada yang bingung. Namun nomor tidak pernah menghadirkan kedekatan. Nomor mengatur. Nama menghubungkan.

Nama bukan sekadar bunyi. Kita tidak pernah mengingat nama dalam keadaan kosong. Setiap kali sebuah nama muncul, selalu ada sesuatu yang ikut datang bersamanya. Nama adalah tempat pengalaman mengendap.

Ketika mendengar sebuah nama, yang hadir bukan cuma orang, atau makhluk lain, atau benda yang menyandangnya. Ikut hadir juga segala yang pernah kita alami bersamanya. Ada nama yang menghadirkan tawa. Ada yang memanggil kembali penyesalan. Ada yang membuat kita diam beberapa saat sebelum mengucapkannya. Juga ada nama yang bertahun-tahun sengaja kita hindari karena sekali menyebutnya saja sudah cukup untuk membangunkan kembali ingatan yang lama kita tidurkan.

Mungkin itu juga sebabnya hampir tidak ada nama yang benar-benar netral. Setiap nama membawa jejak hubungan. Hubungan itu bisa berupa kasih sayang, rasa hormat, kemarahan, kekecewaan, bahkan kebencian. 

Yang hampir tidak pernah melekat pada sebuah nama adalah ketidakpedulian. Terhadap mereka yang sama sekali tidak berarti dalam hidup kita, sering kali justru namanya mudah terlupa.

Kalau begitu, memberi nama barangkali bukan sekadar tindakan bahasa. Ia adalah keputusan yang, sadar atau tidak, memberi tempat bagi seseorang atau sesuatu di dalam dunia batin kita. Semakin lama hubungan itu berlangsung, semakin tebal juga makna yang menempel pada nama tersebut. Dan setiap hubungan, cepat atau lambat, akan meminta ongkosnya sendiri.

Seumur hidup kita berusaha menjaga nama baik. Kita takut nama kita tercemar. Kita ingin meninggalkan nama yang baik bagi anak-anak. Bahkan setelah seseorang mati, sering kali yang tersisa bukan wajahnya, melainkan namanya. Jadi, jangan-jangan, sejak lama kita tidak sedang membawa nama. Kita sedang hidup di dalamnya.

Kalau begitu, sebetulnya kitakah yang memiliki nama? Ataukah nama kitalah yang perlahan-lahan memiliki kita?

Kontak