Bahaya Cara Kita Memahami AI

Bahaya Cara Kita Memahami AI

AI sering dianggap sebagai makhluk tunggal yang bisa berpikir dan memilih sendiri. Cara pandang ini menyesatkan dan berbahaya, terutama saat tanggung jawab manusia mulai kabur.

Menulis & Storytelling

Apa Jadinya Kalau Kisah Hidupmu Tak Pernah Diceritakan?

Apa Jadinya Kalau Kisah Hidupmu Tak Pernah Diceritakan?

Setiap kisah hidup berharga, tapi apa jadinya jika tak pernah diceritakan? Menulis memoar bukan...

Trump, Zelensky, dan Perebutan Kendali Narasi

Trump, Zelensky, dan Perebutan Kendali Narasi

Bagaimana pertemuan antara Trump dan Zelensky di Gedung Putih berubah dari diplomasi menjadi duel...

Catatan

Nasib Cerita di Era AI
Nasib Cerita di Era AI

Di era AI, cerita berubah jadi data—dan data jadi cerita. Tapi di mana letak makna ketika hidup...

Kita yang Harus Belajar Membaca, Bukan Mesin yang Harus Berhenti Menulis
Kita yang Harus Belajar Membaca, Bukan Mesin yang Harus Berhenti Menulis

AI makin canggih, tapi juga makin sering berhalusinasi. Mungkin masalahnya bukan pada mesinnya,...

Silhuet Siapa Itu?

"Masai Two Generations" karya Hyatt Moore

Siapa dia, lelaki di ujung cakrawala, ujudnya dalam silhuet senja?

"Aku laskar tua, nak. Tak punya apa-apa di batas ini senja, selain sepasang sepatu lars dan bedil tua juga. Tak ingin apa-apa, selain menjadi raja bagi burung- burung, bagi ikan-ikan, bagi pohonan, bagi monumen dan menara-menara."

Yang tua menjadi tua, yang muda menjadi tua, karena ia memilih menjadi serigala.

"Bukan. Aku hanya serdadu tua saja. Tak ingin apa-apa, selain menjadi suami bagi semua perempuan, menjadi bapak bagi semua bocah, menjadi mercusuar bagi semua kapal."

Yang tua menjadi muda, yang muda tetap belia, karena ia mencinta segala-gala; bukan karena ia menguasa segala-gala.

Siapakah aku dan engkau, dalam rentangan zaman? Siapakah aku dan engkau, dalam silau cahaya yang terpantul dari matahari ke kaca gedung bertingkat?

Yogya, 14 Nopember 1990. 01.07 WIB

Kontak