Bahaya Cara Kita Memahami AI

Bahaya Cara Kita Memahami AI

AI sering dianggap sebagai makhluk tunggal yang bisa berpikir dan memilih sendiri. Cara pandang ini menyesatkan dan berbahaya, terutama saat tanggung jawab manusia mulai kabur.

Menulis & Storytelling

Apa Jadinya Kalau Kisah Hidupmu Tak Pernah Diceritakan?

Apa Jadinya Kalau Kisah Hidupmu Tak Pernah Diceritakan?

Setiap kisah hidup berharga, tapi apa jadinya jika tak pernah diceritakan? Menulis memoar bukan...

Trump, Zelensky, dan Perebutan Kendali Narasi

Trump, Zelensky, dan Perebutan Kendali Narasi

Bagaimana pertemuan antara Trump dan Zelensky di Gedung Putih berubah dari diplomasi menjadi duel...

Catatan

Nasib Cerita di Era AI
Nasib Cerita di Era AI

Di era AI, cerita berubah jadi data—dan data jadi cerita. Tapi di mana letak makna ketika hidup...

Kita yang Harus Belajar Membaca, Bukan Mesin yang Harus Berhenti Menulis
Kita yang Harus Belajar Membaca, Bukan Mesin yang Harus Berhenti Menulis

AI makin canggih, tapi juga makin sering berhalusinasi. Mungkin masalahnya bukan pada mesinnya,...

Membakar Koran

"Peasant Burning Weeds" karya Van Gogh

Sebelum habis kuteguk secangkir kopi,
kubakar lagi selembar koran pagi ini.
Untuk apa membaca, jika aksara-aksara tak jadi kata-kata.
Untuk apa kata-kata, jika ia tak punya kaki
untuk menapakkan badannya pada bau tanah yang murni.
Untuk apa melihat, jika yang tertera hanya ribuan titik hitam
yang mengaburkan gambar, yang menepiskan kesaksian.

Sebelum jalan-jalan kembali macet dan berisik,
kubakar lagi selembar koran pagi ini.
Biarkan saja angin menerbangkan abunya ke langit,
mengantarkan harapan beribu orang kemana saja ia mau
seperti tak pedulinya bahasa yang lumpuh pada nasib nyata
denyut nadi si papa dan sahaya


Apa yang kau dapatkan dari selembar koran pagi ini?
Hanya pikiran-pikiran
hanya bunyi gemeretak sebuah syaraf di kepala
hanya harapan-harapan
hanya degup kencang dada

Mana peristiwa?
Mana kejadian?
Tak dapat kusentuh wajahmu dan mereka
Tak dapat kau raba kulit mukaku pula

Selembar koran hanya mengajariku bercuriga dan mendendam
sebelum usai sebuah malam
hanya meredam jerit perih luka
di kakiku sebelum kutahu cerita tentang sebongkah batu tajam.
Maka kubakar saja selembar koran pagi ini.

Bahasa telah kehilangan matanya.

Kabarkan padaku apa isi sebuah pena?

Jakarta, 1994

Kontak